Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
HIDUP SEDERHANA PEMIKIRAN JANGAN SEDERHANA

SANTRI MENGUATKAN NEGERI MENUJU INDONESIA EMAS

Membaca Zaman, Menulis Gagasan, Menguatkan Indonesia

Indonesia tidak pernah berhenti berubah. Dari generasi ke generasi, bangsa ini selalu berhadapan dengan tantangan baru. Hari ini, perubahan itu bergerak jauh lebih cepat. Teknologi digital, kecerdasan buatan, arus informasi, perubahan ekonomi, hingga persoalan lingkungan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap menghadapi perubahan, melainkan apakah kita mampu mengarahkannya agar membawa kemaslahatan bagi bangsa.

Di tengah perubahan tersebut, santri memiliki posisi yang penting. Santri bukan hanya mereka yang belajar agama dan tinggal di pondok pesantren. Santri adalah bagian dari generasi muda Indonesia yang dibentuk dengan ilmu, kedisiplinan, kemandirian, dan akhlak. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting untuk menghadapi zaman sekaligus membangun masa depan Indonesia.

Besarnya potensi santri dapat dilihat dari skala pesantren di Indonesia. Data Satu Data Kementerian Agama tahun 2025 mencatat sekitar 42 ribu pondok pesantren dengan lebih dari 3 juta santri yang tercatat dalam dataset tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar ruang pendidikan keagamaan, tetapi juga merupakan salah satu bagian penting dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia.

Namun, jumlah yang besar harus diikuti dengan kemampuan membaca zaman.

Membaca zaman bukan berarti meninggalkan nilai-nilai pesantren. Sebaliknya, membaca zaman berarti membawa nilai-nilai pesantren untuk menjawab persoalan zaman.

Kita hidup dalam masyarakat yang semakin terkoneksi. Survei APJII tahun 2025 mencatat sekitar 229,4 juta penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen. Artinya, ruang digital telah menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Santri tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam perubahan tersebut. Santri perlu memahami teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai perkembangan digital. Akan tetapi, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama kemampuan menyaring informasi. Di tengah derasnya arus berita, seseorang tidak cukup hanya mampu membaca; ia harus mampu membedakan fakta dan opini, informasi dan disinformasi, pengetahuan dan sekadar sensasi.

Hal ini menjadi semakin penting karena kemampuan digital masyarakat Indonesia sendiri masih terus dikembangkan. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 sebesar 44,53, naik 1,19 poin dari tahun sebelumnya. Pengukuran tersebut mencakup infrastruktur dan ekosistem, literasi digital, pemberdayaan, serta pekerjaan. Data tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital Indonesia terus berlangsung, tetapi pada saat yang sama masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara produktif.

Di sinilah santri dapat mengambil peran.

Santri harus mampu mengubah teknologi dari sekadar alat hiburan menjadi sarana belajar dan berkarya. Media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan. Kecerdasan buatan dapat dipelajari sebagai alat bantu produktivitas. Internet dapat menjadi perpustakaan yang tidak mengenal batas ruang. Bahkan pesantren dapat menjadi tempat lahirnya konten-konten edukatif yang membawa nilai keislaman sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Namun, membaca zaman saja belum cukup. Santri juga harus menulis gagasan.

Menulis adalah salah satu cara mengubah kegelisahan menjadi pemikiran. Ketika seorang santri melihat persoalan pendidikan, kemiskinan, lingkungan, budaya, teknologi, atau kehidupan sosial di sekitarnya, ia tidak cukup hanya mengeluh. Ia harus bertanya: mengapa persoalan itu terjadi, apa dampaknya, dan apa yang dapat dilakukan?

Gagasan yang baik tidak harus selalu besar. Gagasan dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Seorang santri dapat menulis tentang pengelolaan sampah di pesantren, literasi digital bagi teman sebaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar, pelestarian budaya lokal, atau pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. Dari persoalan kecil, bisa lahir pemikiran besar.

Pesantren sendiri memiliki kekayaan nilai yang dapat ditawarkan kepada Indonesia. Tradisi musyawarah mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan. Kehidupan sederhana dapat menjadi jawaban atas budaya konsumtif. Tradisi mengaji menumbuhkan semangat belajar. Sementara ajaran tentang amanah, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, kontribusi santri terhadap Indonesia Emas tidak harus selalu dimulai dari gedung pemerintahan atau ruang-ruang besar. Ia dapat dimulai dari kamar pesantren, ruang kelas, perpustakaan, masjid, halaman pondok, bahkan dari selembar kertas tempat seorang santri menuliskan gagasannya.

Pada akhirnya, menguatkan Indonesia berarti menghadirkan manfaat.

Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang memiliki karakter. Tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menguasai teknologi, tetapi juga manusia yang tahu untuk apa teknologi digunakan. Tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga orang yang bersedia menjadi bagian dari perubahan.

Santri memiliki kesempatan untuk menjadi generasi tersebut.

Indonesia Emas bukan sekadar tentang bagaimana Indonesia menjadi negara maju secara ekonomi. Ia juga tentang manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, produktif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. Oleh sebab itu, santri harus berani keluar dari pemahaman bahwa kontribusi kepada bangsa hanya dapat dilakukan melalui profesi tertentu.

Seorang santri yang kelak menjadi guru dapat mencerdaskan generasi. Santri yang menjadi pengusaha dapat membuka lapangan pekerjaan. Santri yang menjadi ilmuwan dapat menghasilkan pengetahuan. Santri yang menjadi pemimpin dapat membawa nilai amanah dalam kebijakan. Bahkan santri yang menjadi penulis dapat menyumbangkan gagasan untuk membentuk cara berpikir masyarakat.

Maka, tugas santri hari ini bukan sekadar bertanya, “Indonesia akan menjadi seperti apa?” Akan tetapi, lebih jauh dari itu: “Apa yang dapat saya lakukan agar Indonesia menjadi lebih baik?”

Sebab masa depan Indonesia bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Masa depan sedang dibangun hari ini—melalui cara kita belajar, cara kita membaca perubahan, cara kita menulis gagasan, dan keberanian kita untuk mengambil tindakan.

Santri membaca zaman agar tidak tertinggal, menulis gagasan agar tidak sekadar menjadi penonton, dan bergerak agar Indonesia semakin kuat. Dari pesantren, untuk negeri. Dari generasi santri hari ini, menuju Indonesia Emas.

Abdul Fazanazi
Abdul Fazanazi Seorang santri dan mahasiswa yang ingin selalu berkarya melalui tulisan dan atau melalui apapun itu, bisa menemui saya di IG, FB, YouTube, dengan nama @abdulfazanazi

Posting Komentar untuk "SANTRI MENGUATKAN NEGERI MENUJU INDONESIA EMAS"