Antologi Puisi | Pada Usia yang Bernama Dewasa
Pada Usia yang Bernama Dewasa
Ada satu masa
ketika hidup berhenti bertanya
apakah kita siap kehilangan
ia hanya mengambil,
satu demi satu,
tanpa sempat memberi kita waktu
untuk mengucapkan selamat tinggal.
Pada usia itu,
kita belajar bahwa dewasa
bukan perkara bertambahnya angka,
melainkan tentang berapa banyak luka
yang sanggup kita sembunyikan
di balik wajah yang tetap tampak baik-baik saja.
Kita mulai akrab dengan sunyi,
dengan malam yang panjang,
dengan doa-doa yang tak kunjung menemukan jawab.
Kita belajar tersenyum
sementara di dalam dada
ada sesuatu yang diam-diam runtuh
tanpa suara.
Dewasa adalah ketika
pulang tak lagi sekadar tentang alamat,
melainkan tentang rindu
yang diam-diam bersemayam di sukma.
Tentang nama-nama yang dahulu akrab,
kini hanya tinggal senandika
di sudut ingatan.
Kita berjalan dengan bahu yang lebih tegar,
meski di dalam dada
ada lelah yang enggan bersuara.
Menelan nestapa tanpa banyak aksara,
menyembunyikan lara di balik senyum,
seolah dunia tak pernah tahu
bahwa ada hati yang berkali-kali
nyaris patah sebelum pagi.
Dewasa mengajarkan kita
bahwa tidak semua yang kita cintai
ditakdirkan untuk menetap.
Ada yang datang sebagai renjana,
lalu pergi meninggalkan pelajaran.
Ada yang kita perjuangkan sepenuh sukma,
namun akhirnya harus kita lepaskan
agar diri sendiri tetap menemukan jalan pulang.
Kita pun mulai memahami,
bahwa waktu adalah sungai yang tak mengenal jeda.
Orang-orang yang kita sayangi
perlahan menua,
rumah yang dahulu riuh
mulai terasa lengang,
dan masa kanak-kanak
menjadi negeri yang hanya bisa dikunjungi
melalui kenangan.
Namun barangkali,
itulah makna menjadi dewasa:
belajar berdamai dengan fana,
tanpa kehilangan asa.
Belajar menerima bahwa hidup
tak harus selalu nirmala
untuk tetap layak disyukuri.
Bahwa luka pun dapat menjadi aksara,
dan kehilangan dapat menjelma
menjadi kebijaksanaan.
Maka jika hari ini
langkahmu terasa berat,
berhentilah sejenak—
bukan untuk menyerah,
melainkan untuk mengingat
bahwa kau telah berjalan sejauh ini.
Tidak semua perjuangan
harus disaksikan manusia.
Tidak semua air mata
harus diberi nama.
Sebab kelak,
ketika seluruh riuh dunia mereda,
barangkali yang paling berarti
bukan seberapa tinggi kita sampai,
melainkan seberapa banyak hati
yang pernah kita teduhkan
sepanjang perjalanan.
Dan pada usia yang bernama dewasa,
kita akhirnya mengerti:
hidup bukan tentang menjadi seseorang
yang tak pernah terluka,
melainkan tentang tetap memilih menjadi baik
meski dunia berkali-kali
mengajarkan kita untuk sebaliknya.
Sebab manusia mungkin fana,
waktu mungkin sirna,
dan segala yang kita genggam
pada akhirnya akan terlepas
tetapi kebaikan yang pernah ditanam
selalu menemukan jalannya sendiri
untuk tinggal
lebih lama daripada usia.
abdulfazanazi, 12/10/26

Posting Komentar untuk "Antologi Puisi | Pada Usia yang Bernama Dewasa "