Antologi Puisi | Di Ambang Dua Puluh, Kita Belajar Menjadi
Ada yang ganjil dari usia dua puluh—
kita terlalu muda untuk disebut selesai,
tetapi hidup telah mengetuk pintu
dengan segenggam perkara
yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah.
Di usia ini,
kita adalah sekumpulan kemungkinan
yang berkelana di antara harapan dan kecemasan;
mengeja masa depan dengan jemari gemetar,
sementara hari esok berdiri sebagai cakrawala
yang belum tentu ramah menyambut kedatangan.
Kita mulai mengenal harga dari sebuah keinginan,
bahwa mimpi tak selalu tumbuh dari keberanian,
kadang ia harus berakar pada keterbatasan,
disirami peluh, dipupuk kesabaran,
dan dibiarkan bertahan
meski berkali-kali dirundung keraguan.
Ada kawan yang telah sampai pada dermaga,
ada pula yang masih terombang-ambing di samudra.
Kita menyaksikan pencapaian orang lain
seperti menatap purnama dari jendela yang berbeda—
indah, tetapi menyisakan tanya:
kapankah giliran kita menemukan cahaya?
Padahal, barangkali kita lupa,
setiap jiwa memiliki musimnya sendiri.
Tidak semua kuncup mekar bersamaan,
tidak semua sungai bermuara dengan kecepatan serupa,
dan tidak setiap keterlambatan
berarti kita telah kehilangan arah.
Di usia dua puluh,
kita mulai memahami getirnya menjadi manusia:
menginginkan banyak hal dengan daya yang terbatas,
menyimpan beribu rencana dalam kepala,
tetapi hanya mampu menuntaskan beberapa perkara
sebelum malam kembali menutup jendela.
Kita belajar bahwa kemandirian
bukan berarti tak lagi membutuhkan pelukan,
melainkan keberanian mengakui kelelahan
tanpa menjadikan rapuh sebagai alasan
untuk berhenti melangkah ke depan.
Bahwa menjadi dewasa
bukan tentang memiliki jawaban atas segala tanya,
melainkan kesediaan hidup berdampingan
dengan hal-hal yang belum kita mengerti,
tanpa kehilangan kepercayaan
kepada diri sendiri.
Dan tentang cinta—
kita mulai tahu bahwa ketulusan
tak selalu berakhir dengan kepemilikan.
Ada pertemuan yang sekadar mengajarkan kehangatan,
ada perpisahan yang mengembalikan kita
kepada diri sendiri yang lama terlupakan.
Maka biarlah usia ini menjadi madrasah
tempat segala kecewa menjelma hikmah,
tempat kesalahan menempa kebijaksanaan,
dan tempat kita belajar membedakan
mana ambisi yang patut diperjuangkan,
mana keinginan yang sebaiknya diikhlaskan.
Sebab kita belum terlambat,
hanya sedang menempuh perjalanan
yang tak selalu dapat diterjemahkan
ke dalam angka, gelar, atau pencapaian.
Jika hari ini kita masih berjalan tertatih,
biarlah.
Tak semua langkah harus tampak perkasa
untuk disebut sebagai perjuangan.
Kelak, ketika waktu menyingkap tabirnya,
semoga kita tak sekadar tumbuh menjadi seseorang
yang berhasil menggenggam dunia,
tetapi juga manusia
yang tak kehilangan nurani
ketika sampai di puncak yang dicita-citakan.
Dan apabila usia dua puluh adalah persimpangan,
aku ingin melaluinya dengan sederhana:
menanam asa tanpa mendewakan hasil,
mengejar cita tanpa menggadaikan ketenangan,
serta menjadi berarti
tanpa harus lebih tinggi daripada siapa-siapa.
Sebab pada akhirnya,
kita bukan sedang berlomba menjadi yang paling dahulu.
Kita hanya sedang belajar—
dengan segala luka, doa, dan ketidakpastian—
bagaimana caranya menjadi manusia
yang pantas bagi kehidupan
yang telah dipercayakan kepadanya.

Posting Komentar untuk "Antologi Puisi | Di Ambang Dua Puluh, Kita Belajar Menjadi"