Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
HIDUP SEDERHANA PEMIKIRAN JANGAN SEDERHANA

KITA BUTUH WAKTU | Chapter 2

PEREMPUAN YANG MEMANGGIL NAMAKU


“Mas Bara!”

Suara itu kembali terdengar ketika Bara baru saja selesai memarkirkan sepedanya. Ia menoleh ke arah suara tersebut. Kirana masih berdiri di dekat sepedanya, sesekali melihat ke arah gedung sekolah.

Bara menghampirinya dengan sedikit rasa penasaran.

“Iya, ada apa?” tanyanya.

Kirana tersenyum kecil. “Tadi aku belum sempat bilang makasih yang benar. Gara-gara aku, kamu jadi buru-buru berangkat.”

Bara sempat terdiam, lalu tertawa pelan.

“Lho, tadi kan sudah bilang makasih.”

“Iya, tapi kamu langsung pergi. Aku takut kamu malah telat gara-gara bantuin aku.”

Enggak apa-apa. Aku masih sempat kok.”

Kirana mengangguk. Ia tampak lega mendengarnya.

Sebenarnya, ada hal lain yang ingin ditanyakan Kirana. Sejak pertama kali datang ke sekolah itu, ia masih merasa canggung. Hampir semua siswa sudah saling mengenal, sementara dirinya harus memulai semuanya dari awal.

“Mas, boleh tanya sesuatu enggak?” ucapnya kemudian.

“Tanya apa?”

“Ruang guru itu sebelah mana, ya? Aku disuruh menemui wali kelas sebelum masuk kelas, tapi tadi malah bingung sendiri.”

Bara menoleh ke arah gedung sekolah. Jam masuk memang belum tiba, tetapi beberapa siswa sudah berjalan menuju kelas masing-masing.

“Oh, ruang guru di gedung sebelah sana. Kamu kelas berapa?”

“Kelas delapan.”

“Kelas delapan yang mana?”

Kirana menyebutkan kelas yang akan ditempatinya. Bara sedikit terkejut setelah mendengar jawabannya.

“Lho, sama dong.”

“Sama apa?”

“Aku juga kelas itu.”

Kirana langsung tersenyum. “Serius, Mas?”

“Iya. Ya sudah, bareng saja. Aku juga mau ke kelas.”

“Boleh, Mas?”

“Ya boleh. Memangnya harus pakai surat izin?”

Kirana tertawa mendengar jawaban itu.

“Masnya ternyata suka bercanda juga, ya.”

“Baru tahu?”

“Baru kenal, kok.”

Bara hanya tersenyum, lalu mengambil tas yang diletakkan di keranjang sepedanya. Mereka berjalan berdampingan menuju gedung sekolah.

Sepanjang perjalanan, Kirana sesekali bertanya tentang letak ruang kelas, kantin, dan tempat membeli alat tulis. Bara menjawab sebisanya. Ia tidak banyak bertanya balik, bukan karena tidak tertarik, tetapi memang sejak awal ia bukan orang yang mudah memulai percakapan dengan orang baru.

Berbeda dengan Kirana yang sesekali mencoba mencari bahan obrolan.

“Mas Bara sudah lama sekolah di sini?”

“Dari kelas tujuh.”

“Berarti sudah hafal semuanya, dong?”

“Belum tentu. Aku saja kadang masih bingung kalau disuruh ke ruang yang jarang didatangi.”

Kirana tertawa kecil.

“Kirain anak lama pasti tahu semuanya.”

“Memangnya aku kepala sekolah?”

Kali ini Kirana tertawa lebih lepas.

Tanpa disadari, perjalanan singkat menuju ruang guru itu membuat suasana di antara mereka terasa lebih santai. Setidaknya, Kirana tidak lagi merasa benar-benar sendirian di sekolah barunya.

Sesampainya di depan ruang guru, Bara menunjuk sebuah pintu di sisi kanan koridor.

“Nah, itu ruang guru. Kamu masuk saja, nanti tanya sama guru yang ada di dalam.”

Kirana mengangguk.

“Makasih, ya, Mas.”

“Iya. Aku ke kelas dulu.”

“Eh, Mas!”

Bara kembali menoleh.

“Apa lagi?”

Kirana tampak sedikit ragu sebelum akhirnya bertanya, “Nanti kalau aku bingung di kelas, boleh tanya kamu, kan?”

Bara mengangkat alisnya.

“Ya boleh. Memangnya aku kelihatan galak?”

“Enggak sih.”

“Terus?”

“Ya sudah, nanti aku tanya.”

Bara tertawa kecil sebelum melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Ia tidak terlalu memikirkan percakapan itu. Baginya, membantu teman baru bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Setelah sampai di kelas, ia langsung duduk di tempat biasanya, mengeluarkan buku dari tas, lalu berbincang dengan teman sebangkunya.

Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi.

Siswa-siswa yang masih berada di luar kelas mulai bergegas masuk. Suasana yang semula ramai perlahan mereda ketika seorang guru memasuki ruangan.

“Selamat pagi, anak-anak.”

“Selamat pagi, Bu!”

Guru tersebut meletakkan buku di atas meja, lalu memandang seluruh siswa sebelum mulai berbicara.

“Hari ini kita kedatangan teman baru. Ibu harap kalian bisa membantu dia menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah ini.”

Bara yang semula sedang membuka buku mendadak mengangkat kepalanya.

Pintu kelas terbuka.

Seorang siswi masuk dengan membawa tas di pundaknya. Ia berdiri di samping meja guru sambil tersenyum malu-malu.

Bara mengenali wajah itu.

Perempuan yang tadi ditemuinya di pinggir jalan. Perempuan yang rantai sepedanya lepas. Perempuan yang beberapa menit lalu masih berbicara dengannya di depan ruang guru.

Kirana.

“Silakan perkenalkan diri kamu,” kata guru tersebut.

Kirana mengangguk pelan, kemudian menghadap ke arah teman-teman barunya.

“Assalamu'alaikum. Perkenalkan, nama saya Kirana. Saya pindahan dari Kota sebelah. Semoga saya bisa berteman baik dengan kalian semua.”

“Wa'alaikumsalam,” jawab siswa-siswi di kelas.

Guru itu kemudian mempersilakan Kirana duduk di bangku kosong yang berada tidak jauh dari tempat Bara.

Sambil berjalan menuju tempat duduknya, Kirana sempat melirik ke arah Bara. Ketika mata mereka bertemu, ia tersenyum kecil.

Bara membalasnya dengan anggukan singkat.

Dalam hati, ia merasa sedikit heran.

Pagi tadi mereka bahkan belum saling mengenal. Namun, sebelum jam pelajaran pertama selesai, mereka sudah bertemu beberapa kali dan sekarang berada di kelas yang sama.

“Dunia ternyata sempit juga,” gumamnya pelan.

“Ngomong apa, Ris?” tanya teman sebangkunya.

“Enggak. Bukan apa-apa.”

Bara kembali membuka bukunya.

Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Guru menjelaskan materi di depan kelas, sementara siswa-siswi mencatat hal-hal yang dianggap penting. Sesekali terdengar suara kursi bergeser atau bisikan kecil dari bangku belakang.

Bara berusaha memperhatikan pelajaran, meskipun beberapa kali ia menyadari Kirana tampak kesulitan mengikuti penjelasan guru.

Bukan hal yang aneh. Kirana baru pindah sekolah, sementara materi yang sedang dipelajari mungkin sudah lebih dahulu dibahas di sekolah lamanya.

Ketika guru meminta siswa mengerjakan soal di buku latihan, Bara melihat Kirana membuka-buka halaman bukunya dengan wajah bingung.

Beberapa saat kemudian, Kirana menoleh ke arahnya.

“Mas Bara,” bisiknya pelan.

Bara mendekatkan kepala sedikit.

“Kenapa?”

“Ini halaman berapa, ya? Tadi aku ketinggalan mencatat.”

Bara menunjukkan halaman bukunya.

“Halaman empat puluh dua.”

“Oh, iya. Makasih.”

Kirana segera mencari halaman yang dimaksud, lalu mulai mengerjakan soal.

Bara kembali pada pekerjaannya sendiri.

Sederhana. Tidak ada kejadian istimewa. Tidak ada percakapan panjang yang membuat mereka langsung akrab.

Hanya sebuah pagi biasa di sekolah.

Namun, bagi Kirana, pagi itu sedikit berbeda. Di antara banyak wajah yang belum dikenalnya, ada satu orang yang sudah dua kali membantunya tanpa membuatnya merasa merepotkan.

Dan bagi Bara, kehadiran Kirana hanyalah kebetulan kecil yang belum memiliki arti apa-apa.

Setidaknya, untuk saat itu.

Ia belum tahu bahwa perempuan yang baru dikenalnya pagi itu kelak akan menjadi seseorang yang begitu sulit ia lupakan.

Bersambung...

Abdul Fazanazi
Abdul Fazanazi Seorang santri dan mahasiswa yang ingin selalu berkarya melalui tulisan dan atau melalui apapun itu, bisa menemui saya di IG, FB, YouTube, dengan nama @abdulfazanazi

Posting Komentar untuk "KITA BUTUH WAKTU | Chapter 2"