Antologi Puisi | Tetaplah Tumbuh, Meski Malam Berkali-kali Meruntuhkanmu
Ada yang tak pernah kau ceritakan kepada pagi,
tentang malam-malam yang kau habiskan
dengan meratapi diri sendiri,
tentang asa yang perlahan kehilangan nyali,
dan mimpi-mimpi yang terasa begitu tinggi
hingga kau ragu untuk kembali berdiri.
Kau mengeluh tentang ketidakmampuanmu,
tentang langkah yang selalu tertatih,
tentang dunia yang berlari begitu jauh,
sementara kau masih sibuk merawat perih
yang bahkan tak tahu kapan akan pulih.
Namun, dengarlah, wahai jiwa yang lelah,
tidak semua yang lambat berarti kalah,
tidak semua yang gugur berakhir punah,
dan tidak setiap air mata adalah tanda menyerah.
Barangkali, kau hanyalah benih
yang terlalu lama terkubur dalam sunyi,
mengira gelap adalah akhir dari segalanya,
padahal bumi sedang mengajarimu
cara menumbuhkan akar sebelum menjulang ke angkasa.
Maka, tetaplah tumbuh,
meski hari ini tanganmu belum mampu menggenggam dunia.
Tetaplah melangkah,
meski kakimu gemetar meniti cakrawala.
Tetaplah percaya,
meski suaramu sendiri mulai meragukan segala asa.
Sebab hidup bukan perlombaan
tentang siapa yang paling dahulu sampai,
melainkan perjalanan panjang
tentang siapa yang tetap memilih bertahan
ketika dirinya sendiri berkali-kali ingin usai.
Dan jika malam kembali datang
membawa segala ketidakmampuan
yang kau keluhkan dalam kesendirian,
jangan buru-buru menghakimi dirimu sebagai kegagalan.
Peluklah segala kurangmu dengan kesabaran,
sebab bahkan rembulan pun tak selalu utuh dalam pandangan.
Ada bagian yang hilang sebelum ia kembali sempurna,
ada cahaya yang redup sebelum menerangi semesta.
Bukan karena kau tak pernah rapuh,
bukan karena kau telah menaklukkan seluruh keluh,
melainkan karena di balik segala yang membuatmu runtuh,
masih ada seberkas keyakinan
bahwa dirimu pantas memiliki hari esok yang lebih teduh.
Dan kelak, ketika kau menoleh ke belakang,
semoga kau mengerti satu hal yang dahulu luput dari pandangan:
Bahwa malam-malam yang kau kira menghancurkanmu,
ternyata sedang menempa ketabahanmu.
Bahwa air mata yang kau sembunyikan,
diam-diam menyirami keberanian.
Dan bahwa dirimu yang dahulu berkali-kali berkata,
"Aku tak mampu,"
adalah jiwa yang sama
yang akhirnya berhasil tumbuh
meski tak pernah benar-benar tahu
bagaimana caranya bertahan sejauh itu.
Sebab, terkadang, kemenangan paling sunyi adalah tetap bertumbuh ketika tak seorang pun tahu betapa kerasnya kau berjuang untuk tidak menyerah.
abdulfazanazi, 23/10/26

Posting Komentar untuk "Antologi Puisi | Tetaplah Tumbuh, Meski Malam Berkali-kali Meruntuhkanmu"